Manganan Kayen, Rangkaian Sedekah Bumi Desa Semanding, Teguhkan Silaturahmi dan Ingatkan Makna Kehidupan
SEMANDING — Tradisi Manganan Kayen kembali digelar oleh Pemerintah Desa Semanding pada Rabu, 29 Juli 2026, bertepatan dengan 15 Safar 1448 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB tersebut bertempat di Pemakaman Umum Kayen, Dusun Semanding Timur, Desa Semanding.
Manganan Kayen merupakan salah satu rangkaian kegiatan Manganan atau Sedekah Bumi yang secara bertahap dilaksanakan di sejumlah makam yang berada di wilayah Desa Semanding. Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenang para leluhur dan keluarga yang telah lebih dahulu berpulang.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat. Warga bersama para tokoh agama dan tokoh masyarakat mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan pembacaan Mahallul Qiyam, kemudian dilanjutkan dengan Surat Yasin dan Tahlil. Doa bersama tersebut menjadi bentuk ikhtiar masyarakat untuk mendoakan para ahli kubur yang dimakamkan di Pemakaman Umum Kayen.
Setelah rangkaian pembacaan Yasin dan Tahlil, kegiatan dilanjutkan dengan mauidloh hasanah yang disampaikan oleh KH. Mas'ud Grido Maruto dari Tuban.
Dalam tausiyahnya, Kiai Mas'ud menyampaikan bahwa kegiatan Manganan hendaknya tidak hanya dipahami sebagai sebuah tradisi tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bagi setiap manusia tentang kepastian datangnya kematian.
Menurutnya, keberadaan makam dan kegiatan doa bersama di dalamnya seharusnya mampu menjadi sarana refleksi bagi masyarakat yang masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kita diingatkan bahwa pada akhirnya kita semua akan merasakan kematian. Karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup, penting bagi kita untuk menanam sekecil apa pun kebaikan di dunia ini.”
Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari kegiatan Manganan Kayen. Kehadiran masyarakat di lingkungan makam tidak hanya untuk mengenang mereka yang telah meninggal, tetapi sekaligus mengingatkan diri sendiri agar senantiasa memperbanyak amal kebaikan, menjaga hubungan dengan sesama, serta menjalani kehidupan dengan penuh manfaat.
Kegiatan Manganan Kayen turut dihadiri oleh seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat Dusun Semanding Timur, yang meliputi wilayah RW.004, RW.005, dan RW.006. Hadir pula seluruh jajaran Pemerintah Desa Semanding, Kepala Desa Semanding Lik Suyanto, Ketua BPD Semanding Totok Puji, serta segenap warga Dusun Semanding Timur dan masyarakat Desa Semanding.
Kehadiran warga juga tidak terlepas dari ikatan kekeluargaan dengan para ahli kubur yang dimakamkan di Pemakaman Umum Kayen. Banyak warga yang datang karena sanak keluarga mereka menjadi bagian dari para almarhum yang dimakamkan di tempat tersebut.
Menjaga Tradisi, Merawat Silaturahmi
Manganan Kayen menjadi bagian dari upaya masyarakat Desa Semanding untuk terus merawat tradisi lokal yang telah hidup di tengah masyarakat. Di dalamnya terdapat perpaduan antara nilai keagamaan, penghormatan terhadap leluhur, gotong royong, serta silaturahmi antarwarga.
Rangkaian Manganan di berbagai makam di Desa Semanding juga menunjukkan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Di balik hidangan dan kebersamaan yang tersaji, terdapat pesan agar generasi yang masih hidup senantiasa mengingat asal-usul, mendoakan keluarga yang telah meninggal, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, Manganan Kayen tidak hanya menjadi momentum untuk berkumpul dan berdoa bersama, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat Desa Semanding: bahwa kehidupan akan memiliki akhir, dan selama kesempatan masih diberikan, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menanam kebaikan, menjaga silaturahmi, serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan sesama.



Posting Komentar untuk "Manganan Kayen, Rangkaian Sedekah Bumi Desa Semanding, Teguhkan Silaturahmi dan Ingatkan Makna Kehidupan"
Posting Komentar